Jumat, 20 April 2012

Batu akik mbah samijah

Batu Akik Eyang Samijah

Pulang sekolah. Panas menyengat. Matahari seakan memanggang bumi. Lukman menendang kerikil kecil yang menghadang di tepi jalan. Jalanan gersang penuh batu kerikil yang terkadang tidak sengaja  masuk ke dalam sepatu Lukman yang sudah lama jebol. Ujung jarinya mengintip. Sudah minta diganti rupanya. Lukman sudah merayu Eyang untuk membelikan sepatu yang baru, tapi Eyang selalu mengatakan kalau Eyang belum punya uang.  Semenjak Emak dan Bapak meninggal, Eyang Samijah lah yang merawat Lukman. Eyang Samijah adalah emaknya Bapak. Bagi Lukman, Eyang adalah satu-satunya orang tua yang dimilikinya.
Belum ada ‘pasien’ yang datang, katanya setiap kali Lukman meminta uang untuk membeli sepatu.. Eyang sehari-hari bekerja sebagai ‘orang pintar’, begitulah setidaknya warga desa Purwasari menyebutnya. Sudah lama Eyang sudah menekuni profesi ini. Eyang memiliki batu akik yang dianggapnya memiliki kekuatan. Dan hampir semua orang mempercayainya. Batu akik itu Eyang temukan pada malam Jum’at kliwon, ketika Eyang menziarahi makam Eyang kakung. Konon, batu akik itulah yang ‘mengikuti’ Eyang. Ketika berdoa di depan makam, Eyang melihat batu akik itu di sebelah pusara Eyang kakung. Semula tidak dihiraukannya, dan Eyang pulang begitu saja . Tapi ketika sampai di rumah, dan Eyang hendak beranjak tidur, tiba-tiba batu akik dengan warna dan bentuk yang sama seperti yang Eyang lihat di pusara, dengan sendirinya sudah berada di sebelah bantal. Wuih ! ajaib....Selanjutnya Eyang pun menyimpan batu itu di dalam sebuah kotak. Dan malam harinya, Eyang bermimpi ditemui Eyang kakung. Dalam mimpinya, Eyang kakung berpesan, supaya batu akik itu digunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Eyang kakung juga mengajari Eyang cara menggunakan batu akik itu. Demikian Eyang bercerita. Dan cerita mimpinya ini Eyang ceritakan pada Mbah Wartini. Mbah Wartini, merasa terpanggil hatinya untuk turut membawa berita ini sampai pada para tetangga.
Hingga pada suatu hari, Mbah Wartini membawa Tio, cucunya yang ke enam, ke rumah Eyang. “ Eyang Samijah, Tolonglah....sudah tiga hari ini Tio badannya panas kalau malam hari. Tapi, kalau siang seperti ini, ia tampak sehat....mohon Eyang mau mengobati Tio” kata Mbah Wartini memelas. Tio yang duduk di sebelah neneknya hanya terdiam ketika Eyang memintanya untuk berbaring.
Lukman menggeleng-gelengkan kepala. “Eyang kan tidak sekolah, tidak bisa baca tulis. Eyang bukan dokter. Apa mungkin Eyang  bisa mengobati ?” Lukman pusing dibuatnya. Kemudian ia kembali menekuri buku-buku pelajaran. Banyak PR yang harus dikerjakan. “Aku harus belajar, supaya tidak mudah diperdaya”. Hehehe... begitulah pesan Pak Untung, guru kelasnya.
Eyang membuka kotak kecil dimana batu akik itu disimpan. Eyang mengikat batu akik itu dengan seutas benang, hingga menjadi seperti liontin. Kemudian satu sisi benang itu Eyang pegang dan mengayunnya. Dan akhirnya bergerak dan berayunlah batu akik itu. Dengan membaca mantra-mantra Eyang terus menggoyang-goyangkan batu akik di atas segelas air. Kira-kira lima menit, Eyang selesai membaca mantra. Kemudian dihentikannya ayunan batu akik itu. “Campurkan air putih ini pada air minum di rumahmu. Nanti malam ketika Tio panas, berilah dia minum dengan air campuran tadi. Perbanyak minum air ini” kata Eyang. Mbah Wartini mengangguk. “Terimakasih Yang Samijah....” kata Mbah Wartini, sembari menyalami Eyang. Salaman basa-basi. Diantara tangan Mbah Wartini dan tangan Eyang, terlihat amplop putih menyembul. Eyang tersenyum.
Demikianlah, beberapa hari kemudian, Tio sembuh. Semenjak itulah Nama Eyang semakin terkenal...terkenal sebagai orang pintar yang bisa menyembuhkan orang-orang tak berpunya yang sakit. Tentu saja, kalau orang itu punya uang...pastilah tidak mau berobat ke Eyang. Mereka memilih berobat ke dokter atau rumah sakit terkenal. Tapi anehnya, kebanyakan pasien yang ditangani eyang, sembuh, meskipun harus rutin datang. Dan kemudian Eyang menjadikan pekerjaan ini sebagai penghasilan utamanya. Hasilnya jauh melebihi dibandingkan menjadi buruh di kebun Wak Husni, juragan ketela dan ubi.
Sebenarnya Lukman tidak senang melihat banyak orang meminta ‘obat’ pada Eyang. Tapi...justru Eyang menganggapnya ini adalah rizki. Semakin banyak orang datang, bisa dipastikan simpanan uang Eyang semakin tebal. Dan, mau tak mau Lukmanpun ikut mengecap hasilnya. Seperti hari ini... “Sepatumu sudah jebol, Luk ?” tanya Eyang. Lukman mengangguk. “Ambil uang dibawah kasur, dan pergilah ke pasar. Belikanlah sepatu, sekalian Eyang mau minta dibelikan kembang” kata Eyang. Lagi-lagi kembang...lagi-lagi kembang. Lukman menggerutu. Tapi, ah...demi sepatu baru. Lukmanpun menuruti perintah Eyang.
Ujian kelulusan tinggal sebulan lagi. Tapi, sudah banyak anak dan orang tuanya datang ke rumah Eyang. Ada Cahyono yang datang dengan Bapaknya, Warso yang ditemani Uwaknya. Tujuannya satu, meminta Eyang untuk memudahkan keduanya mengerjakan soal ketika ujian nanti. Aneh...sungguh aneh, lha yang mengerjakan soal, yang menghadapi bermacam-macam pertanyaan kan mereka berdua, nah....apa kaitannya dengan eyang. Wah wah wah....rupanya keduanya malas untuk belajar. Tinggal minta segelas air, salam tempel, dan pulang. Wah...wah...Eyang bakal senang nih. Rejeki nomplok, begitu kata eyang ketika mendapati banyak ‘pasien’ yang datang.
Tapi Lukman tak mau mengikuti jejak Warso atau Cahyono, atau teman-temannya yang secara bergantian mendatangi eyang. Dan Eyang sendiri tidak pernah memaksa cucunya itu meminum air mantranya. Lukman lebih memilih belajar dan bertanya kepada Pak Untung jika sulit menjawab soal – soal pelajaran. Dan Pak Untung pun mendukungnya. Bahkan Pak Untung kagum pada Lukman, yang tidak ikut-ikutan meminta ‘air putih’ pada Eyang. Pak Untung tahu, hampir semua siswa kelas 6 yang akan mengikuti Ujian kelulusan datang kerumah Eyang Lukman. “Satu gelas air putih, tak mungkin menjadikan kita bisa menjawab soal – soal ujian” begitu nasihat Pak Untung. Selanjutnya, beliau memerintahkan untuk belajar pada semua siswanya.
Hari Pertama Ujian kelulusan. Semua siswa tampak ceria. Semuanya tampak siap mengerjakan soal-soal yang akan dibagikan. “Air dari Eyang Samijah sudah kuminum habis tadi malam, pasti aku bisa mengerjakan, meskipun aku tidak belajar.” batin Warso. Tampaknya demikian pula dalam hati Wardoyo, Cahyono, Bagus, Astuti, Harsih dan sederet teman lainnya yang pernah dilihatnya masuk ke rumah Eyang.
Soal telah dibagikan sepuluh menit yang lalu. Semuanya tampak terpekur menekuni pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Semuanya gelisah. “Air dari Eyang tidak mujarab ! aku tidak bisa menjawabnya.” Batin Astuti. Telapak tangannya basah. Menyalahkan dirinya  yang tak belajar selama ini. Sementara Lukman, tangannya lancar menuliskan rangkaian jawaban. Semua yang dipelajari keluar dalam soal. Dengan mudah ia menuangkannya dalam lembar jawaban. Lukman sesekali menghela nafas puas. Tidak sia-sia ia belajar selama ini. Tidak sia-sia pula ia sering bertanya pada Pak Untung tentang pelajaran.
Ah, segelas air dari batu akik Eyang memang tidak menjamin. Semoga setelah kejadian ini, semua temannya sadar. Kalau segelas air dari batu akik tidaklah berbeda dengan segelas air lainnya, air biasa. Karena hanya dengan belajar dan rajin bertanya pada Guru itulah yang membuat kita pintar.
Pekalongan, 15 Maret 2012
Penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar